Lompat ke isi utama

Berita

Bawaslu Sikka Gelar Konsolidasi Demokrasi, Bahas Fenomena Politik Uang dan Penguatan Integritas Pemilu

BWS SIKKA

Konsolidasi Demokrasi yang dilaksanakan di Kantin Kampus UNIPA Maumere, Kamis (11/06/2026).

Maumere – Bawaslu Kabupaten Sikka terus mendorong penguatan demokrasi yang berintegritas melalui kegiatan Konsolidasi Demokrasi yang dilaksanakan di Kantin Kampus UNIPA Maumere, Kamis (11/06/2026).

Kegiatan tersebut dipimpin oleh Anggota Bawaslu Kabupaten Sikka, Yohanes Ariski, SE, didampingi staf sekretariat Bawaslu Kabupaten Sikka. Konsolidasi demokrasi kali ini menghadirkan akademisi Christofel O. Nobel Pale, S.Pi., M.Si. dan Dr. Henderikus Darwin Beja, S.P., M.Si., untuk berdiskusi mengenai berbagai tantangan demokrasi, khususnya praktik politik uang (money politics) dalam pemilu.

Dalam pemaparannya, Yohanes Ariski menegaskan bahwa politik uang masih menjadi salah satu tantangan serius dalam pelaksanaan pemilu. Menurutnya, praktik tersebut tidak hanya berbentuk pemberian uang tunai, tetapi juga dapat dilakukan melalui berbagai bentuk bantuan maupun pemberian barang kepada pemilih.

“Praktik politik uang sering terjadi dengan berbagai modus dan bentuk. Selain itu, proses pembuktian dugaan politik uang juga menjadi tantangan karena masyarakat sering kali enggan menjadi saksi atau memberikan keterangan,” ungkap Ariski.

Sementara itu, Christofel O. Nobel Pale menyoroti sejumlah persoalan yang masih terjadi dalam penyelenggaraan pemilu. Ia menyampaikan bahwa terdapat berbagai dinamika yang perlu menjadi perhatian bersama, termasuk rendahnya keberanian masyarakat dalam melaporkan pelanggaran pemilu.

Menurutnya, masyarakat masih cenderung takut untuk menjadi saksi dalam kasus dugaan politik uang. Selain itu, ia menekankan pentingnya membedakan antara biaya politik yang digunakan untuk kegiatan kampanye yang sah dengan praktik politik uang yang bertujuan memengaruhi pilihan pemilih.

“Praktik politik uang dapat merusak citra demokrasi karena menggeser pilihan masyarakat dari pertimbangan program dan kualitas calon menjadi pertimbangan materi,” jelas Christofel.

Dalam kesempatan yang sama, Dr. Henderikus Darwin Beja mengajak seluruh peserta untuk melihat persoalan politik uang secara lebih komprehensif melalui pendekatan akademik dan penelitian. Menurutnya, perlu dilakukan kajian mendalam mengenai faktor-faktor yang mendorong terjadinya praktik politik uang di tengah masyarakat.

Ia juga menyoroti adanya kelompok-kelompok pemilih yang dapat dipengaruhi oleh berbagai faktor, seperti kondisi ekonomi dan tingkat pendidikan. Selain itu, perlu dilakukan penelitian terkait tingkat kerusakan surat suara antara wilayah terpencil dan wilayah perkotaan sebagai bagian dari evaluasi kualitas penyelenggaraan pemilu.

Dr. Henderikus juga menegaskan pentingnya penegakan aturan pada masa tenang. Menurutnya, masa tenang harus benar-benar bebas dari aktivitas kampanye dan pelanggaran yang berpotensi memengaruhi pilihan pemilih. Ia bahkan mendorong adanya sanksi tegas terhadap pelanggaran pada masa tenang guna memberikan efek jera.

Lebih lanjut, ia menilai bahwa penguatan independensi lembaga pengawas pemilu menjadi hal penting agar Bawaslu dapat menjalankan fungsi pengawasan dan pengambilan keputusan secara mandiri sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan.

Diskusi berlangsung secara interaktif dengan berbagai masukan dan pandangan yang konstruktif. Melalui kegiatan Konsolidasi Demokrasi ini, Bawaslu Kabupaten Sikka berharap dapat memperkuat kolaborasi dengan kalangan akademisi dalam membangun demokrasi yang lebih berkualitas, sekaligus mendorong lahirnya kajian dan penelitian yang dapat menjadi referensi dalam upaya pencegahan politik uang di masa mendatang.

Kegiatan ini menjadi bagian dari komitmen Bawaslu Kabupaten Sikka untuk terus mengedukasi masyarakat dan memperkuat budaya demokrasi yang jujur, adil, serta bebas dari praktik-praktik yang dapat mencederai kedaulatan rakyat.

Humasbawaslusikka